Karimun, April 2026.

Partai Keadilan Sejahtera (PKS) lahir dari sebuah keyakinan: bahwa kekuatan Indonesia tidak dibangun hanya dari pusat, tetapi bertumpu pada daerah-daerah yang mandiri, kuat, dan mampu tumbuh dari potensinya sendiri.
Sejak awal perjalanan, PKS hadir bukan semata sebagai kendaraan politik, melainkan gerakan yang tumbuh dari gagasan pelayanan, pemberdayaan, dan pembangunan yang berakar dari masyarakat. Sebuah keyakinan bahwa perubahan besar selalu dimulai dari kerjakerja kecil yang konsisten.
Dari gagasan itu pula lahir sosok-sosok hebat yang ditempa oleh proses. Bukan hanya untuk memimpin, tetapi juga untuk mengabdi.
Salah satunya adalah Ing Iskandarsyah, Bupati Kabupaten Karimun periode 2025-2030.
Sejak dilantik, Ing Iskandarsyah bersama wakilnya Rocky Marciano Bawole memulai kepemimpinan dengan menghadapi berbagai tantangan yang telah menumpuk.
Di tengah keterbatasan anggaran, serta persoalan yang diwariskan oleh pemerintahan sebelumnya, mereka bergerak cepat dan fokus pada persoalan-persoalan prioritas yang paling mendesak, mulai dari
(1) Permasalahan sampah & tenaga kebersihan;
(2) Kelangkaan Beras;
(3) Mangkraknya Pembangunan KECC;
(4) TPP ASN yang tidak dibayar berbulan-bulan; hingga
(5) Permasalahan tunda bayar yang tak kunjung selesai.
Begitu sah amanah dititipkan di pundaknya, maka perubahan itu dimulai. Persoalan satu per satu perlahan mulai diurai. Dengan pemetaan yang terukur, arah kebijakan mulai digerakkan untuk menjawab persoalan secara konkret melalui langkah-langkah berikut.
1. Persoalan sampah, mulai diatasi melalui penguatan sistem pengelolaan, kolaborasi lintas pihak, serta penambahan sarana pendukung seperti kontainer, armada pengangkut, dan infrastruktur penanganan. Upaya konkret ini, menjawab keluhan masyarakat yang selama ini menjadi perhatian.
2. Kelangkaan Beras, Merespon melalui langkah dengan berkolaborasi dengan berbagi pihak antara Pemerintah Pusat, Provinsi hingga Lintas Lembaga agar menjamin pasokan pangan tetap aman. Upaya ini juga menjadi bagian dari dukungan terhadap ketahanan pangan daerah sejalan dengan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto.
3. Pembangunan Karimun Exhibition and Convention Centre (KECC) yang sempat tertahan, kembali didorong melalui percepatan progres dan diarahkan menjadi gedung Mal Pelayanan Publik atau MPP, sebagai upaya menghidupkan kembali aset yang sebelumnya belum optimal agar memberi manfaat nyata bagi pelayanan masyarakat.
4. TPP ASN yang sempat tertunda, mulai diurai melalui langkah pencairan bertahap, penataan alokasi anggaran, dan normalisasi mekanisme pembayaran. Upaya ini dilakukan untuk memenuhi hak aparatur, sekaligus menjadi bagian dari pembenahan tata kelola keuangan daerah.
Dari pembenahan itulah, Iskandarsyah memastikan bahwa arah pembangunan Karimun mulai bergerak bukan hanya untuk menjawab persoalan hari ini, tetapi juga membuka peluang masa depan. Dengan posisinya yang strategis di jalur perdagangan Selat Malaka, Bumi berazam julukan negeri ini, memiliki potensi besar sebagai simpul pertumbuhan ekonomi kawasan.
Peluang itu diperkuat melalui beberapa agenda strategis berikut:
1. Pengembangan Oil Tanking sebagai Peluang Industri Strategis
Rencana pengembangan oil tanking yang didorong pemerintah pusat menjadi salah satu peluang besar yang tengah dipersiapkan.
Dengan posisi dekat jalur tanker internasional, Karimun dinilai memiliki potensi menjadi hub penyimpanan dan distribusi energi. Jika terealisasi, sektor ini berpotensi menarik investasi, membuka lapangan kerja, dan memperkuat ekosistem industri turunan di daerah.
2. Progress Penguatan BP Kawasan Karimun
Percepatan fungsi dan penguatan BP Kawasan terus menjadi bagian dari agenda strategis pembangunan.
Mulai dari dorongan peningkatan investasi, pembenahan tata kelola kawasan, hingga upaya memperkuat daya saing kawasan perdagangan bebas. Kesempatan ini menjadi fondasi penting, agar Karimun miliki peluang industri dan investasi yang lebih besar ke depannya.
3. Pariwisata dan Potensi Investasi Karimun
Di saat yang sama, Karimun juga tumbuh melalui kekuatan budaya dan pariwisatanya. Potensi itu terlihat dari geliat event dan daya tarik daerah seperti:
• Festival Lampu Colok dan Lampu Hias sebagai kekuatan wisata budaya berbasis tradisi.
• Kereta Hias dan Taja Tari yang memperlihatkan kekayaan seni lokal.
• Lomba Jong sebagai identitas maritim yang khas dan bernilai wisata.
• Destinasi pantai dan wisata bahari Karimun yang terus berkembang.
• Kawasan wisata seperti Telunas yang membuka peluang investasi hospitality dan ecotourism.
Memperkuat ekonomi kreatif daerah. Arah pengembangan pariwisata ini tentunya tidak hanya bertumpu pada kunjungan wisatawan, tetapi juga mendorong investasi, pemberdayaan UMKM, dan pertumbuhan ekonomi lokal.
4. Penguatan Ketahanan Pangan Daerah
Pembangunan Karimun juga diarahkan pada penguatan sektor pangan. Langkah ini dapat dilihat melalui:
• Kolaborasi bersama Bulog guna mewujudkan gudang penyimpanan untuk memperkuat distribusi cadangan pangan.
• Panen cabai di Pulau Parit sebagai bagian penguatan komoditas hortikultura lokal.
• Pengembangan jagung sebagai bagian diversifikasi produksi pangan.
• Panen padi di Moro yang menjadi upaya memperkuat produksi beras dari dalam daerah.
Langkah-langkah ini menunjukkan bahwa ketahanan pangan tidak hanya dipandang sebagai respons atas kelangkaan, tetapi menjadi agenda jangka panjang untuk memperkuat kemandirian daerah.
Karena bagi Iskandarsyah dan Rocky, membangun Karimun pada akhirnya, bukan hanya tentang membangun kemandirian daeraan tetapi tentang menghadirkan bagian dari kekuatan Indonesia.efby
