Lingga, Januari 2026.
Tradisi ini tidak hanya berbicara soal hasil laut, tetapi juga tentang kebersamaan, warisan budaya, dan hubungan harmonis antara manusia dengan alam. Setiap kali air laut surut, pantai-pantai di Resang berubah menjadi tempat berkumpulnya warga yang membawa cangkul kecil, ember, serta keranjang untuk mencari remis yang bersembunyi di dalam pasir lembut.
Sejak dulu, mencari remis sudah diperkenalkan oleh para orang tua kepada anak-anak mereka. Generasi demi generasi tumbuh dengan memori tentang langkah kaki kecil di tepi pantai sambil memungut remis yang muncul bersama ombak yang perlahan menyingkir. Banyak warga mengakui bahwa tradisi ini bukan hanya untuk mencari rezeki tambahan, tetapi juga menjadi sarana mendidik anak tentang kesederhanaan, kerja keras, dan rasa syukur terhadap alam.
Suasana pantai saat musim remis menjadi pemandangan tersendiri. Teriakan riang anak-anak yang menemukan remis besar, deru ombak yang memecah sunyi, serta percakapan ringan antarorang tua menciptakan harmoni khas yang sulit ditemui di tempat lain. Aktivitas ini menjadi momen keluarga untuk berkumpul, berbagi cerita, dan mempererat hubungan sosial antarsesama warga. Dalam setiap genggaman remis, terselip kisah-kisah lama tentang masa kecil, perantauan, hingga harapan untuk kehidupan yang lebih baik.
Bagi sebagian warga, remis juga memiliki nilai ekonomi yang cukup membantu. Hasil tangkapan yang melimpah sering dijual ke pasar atau kepada pembeli lokal, terutama ketika permintaan meningkat. Namun, masyarakat Resang tetap menjaga tata cara pengambilan remis agar tidak merusak ekosistem pantai.
Para tetua desa selalu mengingatkan untuk tidak mengambil remis yang masih kecil dan menjaga kebersihan pantai agar keberadaan remis tetap lestari.
Seiring perkembangan zaman, banyak tradisi pesisir yang mulai memudar, namun mencari remis di Desa Resang tetap bertahan sebagai sebuah kebiasaan yang mengikat identitas masyarakatnya. Tradisi ini bukan hanya menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, tetapi juga menjadi daya tarik budaya yang mencerminkan kedekatan warga dengan laut sebagai sumber kehidupan.
Kini, mencari remis bukan sekadar aktivitas sederhana, melainkan sebuah simbol bahwa adat dan tradisi Desa Resang terus hidup dan dijaga. Selama pantai masih ada dan ombak masih menyentuh pasir, selama itu pula kenangan dan kebiasaan mencari remis akan terus mengalir sebagai denyut kehidupan masyarakat Resang.zoel
