Lingga, Juli 2025.
Ikan kerapu menjadi salah satu komoditas unggulan budidaya di Indonesia, selain tiga komoditas utama lainnya, yaitu udang, ikan nila, dan rumput laut.
Sumber daya perikanan Indonesia memiliki potensi yang sangat besar untuk dikembangkan, baik untuk usaha perikanan skala kecil maupun besar, sehingga mampu memenuhi kebutuhan pasar lokal maupun ekspor, serta berperan sebagai penghasil devisa negara.
Demikian pula di Kabupaten Lingga, selain udang Vannamei, kerapu juga menjadi salah satu primadona budidaya yang mulai diminati masyarakat.
Hal ini karena nilai jualnya cukup tinggi, yakni mencapai rata-rata Rp110.000 per kilogram di tingkat produsen.
Adapun beberapa lokasi budidaya kerapu di Kabupaten Lingga antara lain Kecamatan Singkep Barat, Kecamatan Lingga, Kecamatan Selayar, Kecamatan Lingga Timur, Kecamatan Senayang, Kecamatan Kepulauan Posek, dan Kecamatan Bakung Serumpun ungkap sumber dari dinas kelautan dan perikanan kabupaten lingga 29/7.
Jenis kerapu yang paling banyak dibudidayakan adalah Kerapu Cantang, disamping jenis lainnya seperti Kerapu Sunu dan Kerapu Hitam.
Ikan kerapu termasuk jenis karnivora dengan cara makan melahap satu per satu sebelum makanan jatuh ke dasar perairan. Pakan yang paling disukai adalah jenis Crustacea (udang) seperti rebon, dogol, dan krosok, serta ikan-ikan kecil seperti tembang, teri, dan belanak.
Pemberian pakan untuk ikan kerapu Cantang dianjurkan sebesar 10–15% dari berat badan per hari.
Hal ini sejalan dengan pendapat Gufron (2010), yang menyatakan bahwa pertumbuhan ikan akan optimal jika pakan diberikan sebanyak 15% dari bobot tubuhnya per hari.
Kualitas Air :
Nilai pH yang baik untuk produksi dan pemeliharaan ikan adalah 6,5-9. Ikan kerapu menyukai hidup di habitat perairan karang dengan salinitas 30 ppt sampai 35 ppt. nilai kecepatan arus yang optimal untuk budidaya kerapu berkisar antara 0,23 m/detik – 0,50 m/detik. suhu optimum untuk budidaya kerapu di KJA berkisar antara 27˚ – 32˚) Konsentrasi oksigen terlarut optimum untuk pembesaran ikan adalah >3 mg.
Tantangan
• Harga benih relatif mahal.
• Ketergantungan pada pakan ikan rucah (kalau tidak memakai pelet).
• Rentan terhadap perubahan lingkungan jika tidak dikelola dengan baik.