Asal Sejarah Nama Tanjungpinang.

Tanjungpinang, 19 Oktober 2019.

Pada zaman dahulu, tersebutlah sebuah bandar kecil Anjang Luku di pantai barat Pulau Bintan. Konon disitulah tempat persinggahan Laksamana Hang Tuah, tatkala beliau berlayar dari Malaka Pulau ke Sungai Duyung Ulu Bintan, kampung halamannya.

Menurut yang empuhnya cerita, bandar kecil Anjang Luku itu banyak sekali ditumbuhi pokok pinang. Batang-batang pinang itu berjejer di pinggir pantai, berseleret-leret sejak Tanjung Buntung hingga ke muara Sungai Bintan. Paling subur tumbuhnya berumpun-rumpun, disekitar cabang anak sungai yang menngalir dari bukit ke lembah. Tandanya di situ memiliki sumber air. Air itupun senantiasa mengalir, tidak pernah susut sekalipun musim kemarau.

Tidaklah mengherankan jika sesudah zaman Laksamana Hang Tuah itu pun bandar kecil Ajang Luku masih cukup ramai disinggahi orang. Ada yang berhenti untuk berlindung dari angin ribut yang tengah membadai, dan ada pula pelaut yang singgah mengambil air perbekalannya.

Lain halnya dengan Sultan Ibrahim dari Malaka. Baginda memanfaatkan bandar kecil Ajang Luku itu sebagai tempat perhimpunan para saudagar dan pedagang antar suku bangsa. Di situlah mereka berkumpul, baik saqudagar dari Jawa, Bugis Makasar dan Minangkabau, maupun saudagar dari Melayu untuk bermusyawarah.

Oleh karena itu, penuh sesaklah pantai barat Pulau Bintan bagian selatan ketika itu. Beratus-ratus buah kapal-layar besar-kecil, seta sampan perahu beraneka ragam berlabuh di pantai Ajang Luku. Riuh-rendah siang dan malam. Karena ramainya orang. Ada yang sibuk memasak dan ada juga yang sibuk mengambil air minum di anak cabang Sungai Bintan. Sebagian mereka itu mencari kayu api di bukit-bukit, memasuki hutan belukar. Para saudagar, pedagang dan Sultan Ibrahim tengah sibuk mengadakan sidang. Permusyawaraan dilaksanakan di kembah-kembah, sengaja didirikan di tepi pantai.

Sultan Ibrahim pun bertitah “Wahai seksalian saudagar. Kita hendaknya sepakat, menguasai pelayaran niaga. Perdagangan di perairan Malaka dan Selat Riau mesti berada di tangan kita”. Kata baginda lagi,”Kira jaga keamanan di Laut Riau secara bersama-sama, bahu-membahu sesama kita”.

Anjuran Sultan Ibrahim dari Malaka itu konon, disebut dengan “Mufakat Anjang Luku”, yakni tekad bersama untuk menguasai perdagangan di perairan Selat Malaka hingga ke Selat Riau. Yang disebut Selat Riau itu adalah perairan pantai barat Pulau Bintan dan lingkungan pulau-pulau Batam-Rempang-Galang atau disingkat “Barelang”.

Konon sepanjang pelayaran dari Selat Malaka hingga ke Selat Riau dalam abad ke-17 sampai pertengahan abad ke-18 merupakan alur perdagangan kepulauan Nusantara. Daerah itu dikuasai oleh saudagar anak wathan: Jawa, Bugis, Minangkabau, dan Melayu sendiri. Orang Eropa pada zaman itu saja yang mengelari mereka “Perampok Lamun”, sebab orang asing yang tergabung dalam kompeni itu merasa cukup terhalang dan dihalang-halangi, untuk mengerut keuntungan sebesar-besarnya.

Menurut cerita, ketika itulah para pengikut dan pengiring saudagar yang mengadakan sidang mufakat di Ajang Luku, jika malam hari sibuk pula memasang api unggun. Hal itu mereka lakukan untuk menerangi lingkungan perkemahan pinggir pantai dengan menyalakan api. Cahayanya pun memancarkan terang-benderang. Begitu juga yang dilakukan oleh para pencari kayu bakar yang kemalaman hari di bukit-bukit. Api unggun dinyalakan sebesar-besarnya sebagai penghalau nyamuk, sekaligus merupakan sebuah isyarat. Mereka sedang kemalaman di hutan. Tidak sempat turun ke pantai untuk pulang ke perahu atau perkemahan. Sementara kayu api bertimbun-timbun akan dibawa pulang.

Berpekan-pekan pula lamanya, pantai dan bukit sekitar bandar kecil Ajang Luku itu terang-benderang setiap malam hari. Cahayanya berdendang kuning kemerah-merahan, kelihatan dari setiap penjuru. Tampak jelas dari arah karng-karang laut tempat para nelayan memancing dan melabuh jaring. Mereka itu pun bertanya-tanya, terutama nelayan yang belum sempat ke Ajang Luku beberapa pekan terakhir.

Nelayan itu bertanya kepada penjaring Cina yang bertempat tinggal di Senggarang bersebrangan sungai dengan Ajang Luku.

“Cahaya apa itu yang terang-benderang itu, Sobat?” Tanya mereka keheran-heranan,”Apa sobat tahu?”

“Pi-pei nang,” sahut penjaring Cina. Artinya api-api dinyalakan orang. “Pi-pei nang lho….” kata mereka berlidah pilat tionghoa.

“Oh… Pian pi-nang…,” sahut nelayan Melayu, berarti pantai pinang .
“Ehm… pian pi-nang,”gumam nelayan Melayu yang lain seraya menoleh kearah cahaya api yang terang-benderang itu. Kemudian berkata lagi,”Patutlah, disana banyak pokok pinang. Apakah ada orang membakar pokok-pokok pinang di pian Ajang Luku?”

“Tidaklah sobat,” kata tukang penjaring Cina seraya mengumbaikan jaringnya, “Pi-pei nang…”. maksudnya, bukan pokok pinang terbakar, tetapi api-api unggun orang ramai. Mereka ramai sekali datang bermukim di Ajang Luku, dan suka menyalakan unggun di malam hari.
“Oh… kalau ramai orang di Ajang Luku pi-pei nang itu… besok pagi kita sama-sama berjual ikan di Pi-pei nang”.

“yeak, kita ke pi-pei nang…” sahut para nelayan beramai-ramai.”Ke Pi-pei nang kita…” mereka pun bersorak-sorai. “Heh-houi… kita ke Pi-nang…”

“Ke Pinang?” Tanya nelayan yang berpapasan jalan. “Ehm… mereka akan ke bandar kecil yang banyak pokok pinangnya. Yeak, Ajang Luku bandar kecil berpadar pinang!” katanya dalam hati seraya merangkuh dayung-pendayung mengarahkan perahunya ke Pi-nang juga.
Sejak peristiwa itulah konon, para nelayan Cina menyebut bandar kecil itu “Pi-pei nang”, yang berarti “api-api orang”. Sementara orang Melayu menyebut “Pian-Pinang”, atau pantai pokok-pokok pinang. Karena terletak pada sebuah tanjung maka disebut “Tanjung Pinang”.berbagai sumber

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *